Artikel

SURVIVAL MODE: CARA MENGELOLA UANG SAAT PANDEMI

Irsyad Kamal, S.E., MBA, QWP®

Setelah WHO menetapkan Covid-19 menjadi pandemi dunia setiap negara mulai melakukan protokol kesehatan secara ketat untuk meminimalisir penyebaran virus tersebut. Virus ini merupakan virus yang bersifat human to human transfer atau dengan kata lain menular antar manusia. Oleh karenanya mengurangi kontak antar manusia menjadi salah satu cara terbaik untuk menekan angka penularan. Hal ini memang awalnya merupakan krisis kesehatan atau permasalahan didunia kesehatan tetapi ternyata pandemi ini memiliki dampak domino bukan hanya dikesehatan melainkan diberbagai sektor termasuk sektor ekonomi dan juga keuangan.

Berbeda dengan krisis keuangan yang terjadi khususnya di Indonesia pada tahaun 1998 dan krisis dunia di 2008. Kondisi saat ini mengharuskan adanya adaptasi kebiasaan baru yang disebut “new normal”. Konsep adaptasi kebiasaan baru ini akan menjadi suatu hal yang terus berlanjut sampai nanti ditemukannya vaksin untuk Covid-19. Salah satu contoh dari adaptasi kebiasaaan baru yang sangat dirasakan dimasyarakat salah satunya adalah bekerja dari rumah (WFH), belajar dari rumah (SFH), beribadah dari rumah, menjaga jarak (physical distancing), dan memakai masker disetiap keluar rumah.

Adaptasi kebiasaan baru ini pastinya tetap berdampak kepada pelambatan ekonomi hampir diseluruh negara. Khususnya UMKM di Indonesia merasakan dampaknya paling signifikan tidak seperti waktu krisis yang pernah dialami sebelumnya. Hal ini mengakibatkan banyaknya orang yang penghasilannya berkurang bahkan bisa hilang karena adanya pelemahan ekonomi saat ini. Sampai pada Bulan Mei 2020 di Indonesia sudah terdapat dua juta orang yang kehilangan pekerjaannya berdasarkan data dari Kementrian Ketenagakerjaan[1].

Menjadi menarik jika kita mencari tahu lebih banyak tentang informasi apa yang menjadi kekhawatiran utama kebanyakan orang dari terjadinya Covid-19 yang menimpa mereka[2]. Empat teratas kekhawatiran mereka adalah kelangkaan produk (30%), Kelangsungan usaha dan pekerjaan 34%, risiko sakit 46%, dan yang tertinggi adalah kondisi keuangan pribadi dan keluarga 60%. (Kantar, 2020)

Gambar 1 Kekhawatiran utama dari masyarakat tentang situasi COVID-19

Untuk mengurangi kekhawatiran tersebut maka diperkukan panduan survival mode untuk masyarakat yang terkena dampak dalam hal pengelolaam keuangan pribadi dan keluarga agar bisa bertahan dimasa pendemi. Mengelola keuangan pribadi atau keluarga ini tidak sulit tapi tidak mudah juga karena diperlukan komitmen yang tinggi. Ditambah lagi tingkat literasi keuangan di Indonesia ini masih rendah walaupun tiap tahun meningkat. Berdasarkan data OJK tahun 2019 tingkat literasi keuangan di Indonesia diangka 38,3%[3]. Hal ini menggambarkan kondisi pengelolaan uang pribadi dan keluarga untuk sebagian besar masyarakat masih sangat belum berjalan dengan baik, selain itu data ini mengambarkan masih banyaknya ketidak siapan masyarakat dalam hal pengelolaan keuangan untuk menghadapi pandemi ini.

Berikut ini adalah panduan survival mode: dalam pengelolaan keuangan masa pandemi:

  1. Menerima keadaan

Tahapan ini mungkin sebagain orang merasa tidak penting tetapi justru bagian ini adalah awalan tahap yang harus dipahami dengan kondisi yang dialami karena sebenarnya yang merasakan ini banyak orang atau pihak bukan kita sendiri jadi jangan panik dan terimalah keadaan ini secara nyata.

  • Cek kondisi keuangan

Setiap orang diharuskan untuk menginventarisir dan melakukan pengecekan kesehatan keuangan yang dimiliki. Hal-hal yang perlu dilakukan pengecekan antara lain adalah dana darurat, asset, investasi, piutang, maupun utang. Hal utama yang paling penting menjadi perhatian adalah menyiapkan dana darurat karena dimasa seperti ini dana darurat dapat digunakan. Dalam kata lain dana darurat adalag sejumlah dana yang disiapkan untuk menjadi sumber dana disaat-saat yang tidak terduga. Biasanya besaran minimal dana darurat yang harus dimiliki adalah 6-12 kali rata-rata pengeluaran operasional pribadi atau rumah tangga dalam sebulan. Dana darurat juga selain tabungan bisa berupa asset atau investasi yang mudah dicairkan seperti logam mulia, deposito, atau reksadana pasar uang.

  • Mengelola cashflow

Membuat alokasi keuangan baru merupakan bagian dari adaptasi kebiasaan baru, dimana dengan kondisi ini kita dapat mengurangi sebagain pengeluaran dari aktivitas yang sudah berkurang atau hilang seperti menonton bioskop diakhir pekan, gym, dan kegiatan lainnya seperti hangout di toko kopi. Pastinya ada biaya yang berkurang dan ada biaya yang meningkat juga seperti biaya internet, layanan nonton online, atau pulsa, oleh sebab itu sangat diperlukan untuk membuat alokasi keuangan yang baru untuk penyesuaiannya demi menjaga cashflow tetap berjalan lancar. Dalam menjaga cashflow ini juga sangat diperlukan untuk kita semakin bijak dalam menggunakan uang. Sangat disarankan dalam penggunaanya untuk mengurangi pengeluaran yang sifatnya sekunder dan menghilangkan hal-hal tersier, sehingga alokasi banyak digunakan untuk hal primer,dan memberikan kebaikan untuk yang membutuhkan. Dengan memberikan anggaran kebaikan sekitar 10% dari penghasilan, kita masih bisa saling berbagi khususnya kepada yang lebih membutuhkan. Jika masih memiliki cicilan dimasa pandemi ini banyak pihak khususnya bank memberikan fasilitas keringanan cicilan, hal ini sangat bisa di manfaatkan untuk memperbaiki pengelolaan cashflow kuangan dan jangan sekali-kali menambah beban cicilan bulanan disaat survival mode.

  • Optimalkan rejeki tambahan untuk berinvestasi

Disetiap kesulitan pasti ada kemudahan, hal ini mendasari pemahaman kita bahwa tetap masih ada peluang dimasa seperti ini. Rejeki tambahan yang masuk diharapkan dapat dioptimalkan untuk berinvestasi. Investasi sejatinya adalah upaya menunda pengeluaran hari ini untuk mempersiapkan kebutuhan peneluaran dimasa depan. Investasi sebaiknay memiliki tujuan agar jelas dan terukur baik secara nilai maupun waktu. Meskipun masa pendemi kita tetap membutuhkan investasi untuk sekolah anak kedepannya, membeli rumah, atau menyiapkan penghasilan setelah pensiun. Hidup tetap berjalan sehingga jangan lupa untuk tetap berinvestasi terutama ketika mendapatkan rejeki tambahan.

Demikian survival mode untuk mengelola keuangan dimasa pandemi, keempat tahapan ini merupakan dasar dalam pengelolaan keuangan pribadi dan keluarga. Keempat hal ini sangat sulit dijalankan tanpa adanya komitmen yang kuat. Oleh sebab itu diharapkan dalam penerapan survival mode ini sangat diperlukan unutk keikut sertaan komitmen didalamnya. Bukan hanya komitmen untuk bertahan dimasa sekarang tetapi komitmen untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik dan tenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *